Jasa Desain Mesin

silahkan menghubungi kami lewat E-mail didin.zakariya.l@gmail.com atau 08563684605

Pengertian CAD

Computer Aided Design merupakan suatu program komputer untuk menggambar suatu produk atau bagian dari suatu produk.

PENGERTIAN LAS LISTRIK

Las busur listrik adalah salah satu cara menyambung logam dengan jalan menggunakan nyala busur listrik yang diarahkan ke permukaan logam yang akan disambung.

Teknik Permesinan

Teknik mesin atau Teknik mekanik adalah ilmu teknik berkaitan dengan aplikasi dari prinsip fisika untuk desain, analisis, manufaktur dan pemeliharaan sebuah sistem mekanik.

Pengertian dari Teknik material

Ilmu material sering juga disebut teknik material atau juga ilmu bahan merupakan sebuah interdisiplin ilmu teknik yang mempelajari sifat bahan dan aplikasinya terhadap berbagai bidang ilmu dan teknik.

Minggu, 27 Maret 2016

Pengertian dari Teknik material

Pengertian dari Teknik material
       Ilmu material sering juga disebut teknik material atau juga ilmu bahan merupakan sebuah interdisiplin ilmu teknik yang mempelajari sifat bahan dan aplikasinya terhadap berbagai bidang ilmu dan teknik. Ilmu ini mempelajari hubungan antara struktur bahan dan sifatnya. Termasuk ke dalam ilmu ini adalah unsur fisika terapan, teknik kimia, mesin, sipil dan listrik. Ilmu material juga mempelajari teknik proses atau fabrikasi (pengecoran, pengerolan, pengelasan, dan lain-lain), teknik analisis, kalorimetri, mikroskopi optik dan elektron, dan lain-lain), serta analisis biaya atau keuntungan dalam produksi material untuk industri.

pengertian dari teknik material


      Perkembangan terakhir, ilmu tentang bahan ini mendapat sumbangan yang besar dari majunya bidang nanoteknologi dan mulai diajarkan secara luas di banyak universitas-universitas di seluruh dunia.
Sejarah
     Dimulainya suatu era seringkali ditandai dengan mulai digunakannya suatu bahan baru pada suatu peradaban, misalnya zaman batu, era perunggu, dan era besi. Teknologi bahan bisa dikatakan merupakan salah satu teknologi yang paling tua dalam peradaban, dan merupakan pendahulu dari cabang teknologi lainnya.

Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/

Teknik Permesinan

       Teknik mesin atau Teknik mekanik adalah ilmu teknik berkaitan dengan aplikasi dari prinsip fisika untuk desain, analisis, manufaktur dan pemeliharaan sebuah sistem mekanik. Ilmu ini membutuhkan pengertian mendalam atas konsep utama dari cabang ilmu teknik material, termodinamika, mekanika, kinematika dan energi. 
teknik permesinan

      Ahli atau pakar dari teknik mesin biasanya disebut sebagai insinyur (teknik mesin), yang memanfaatkan pengertian atas ilmu teknik ini dalam mendesain dan menganalisis pembuatan kendaraan, pesawat, pabrik industri, peralatan dan mesin industri dan lain sebagainya. Teknik mesin biasanya terdiri dari:

    1. Perancangan Mekanik dan Konstruksi
    2. Proses Manufaktur dan Sistem Produksi
    3. Konversi energi
    4. Ilmu Bahan / Metalurgi

       Teknik mesin mulai berkembang sebagai suatu ilmu setelah adanya revolusi industri di Eropa pada abad ke-18. Kemudian pada abad ke-19 semakin berkembang lagi mengikuti perkembangan ilmu fisika. Ilmu teknik mesin pun semakin canggih, dan para insinyurnya sekarang mengembangkan diri di bagian komposit, mekatronika, dan nanoteknologi. Ilmu ini juga mempunyai hubungan dengan teknik penerbangan, teknik sipil, teknik listrik, teknik perminyakan, dan teknik kimia.

Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/

Pengertian CAD

Pengertian CAD
Computer Aided Design merupakan suatu program komputer untuk menggambar suatu produk atau bagian dari suatu produk. Produk yang ingin digambarkan bisa diwakili oleh garis-garis maupun simbol-simbol yang memiliki makna tertentu. CAD bisa berupa gambar 2 dimensi dan gambar 3 dimensi.

Pengertian CAD


Bermula dari menggantikan fungsi meja gambar kini perangkat lunak CAD telah berevolusi dan terintegrasi dengan perangkat lunak CAE (Computer Aided Engineering) dan CAM (Computer Aided Manufacturing. Integrasi itu dimungkinkan karena perangkat lunak CAD saat ini kebanyakan merupakan aplikasi gambar 3 dimensi atau biasa disebut solid modelling. Solid model memungkinkan kita untuk memvisualisasikan komponen dan rakitan yang kita buat secara realistik. Selain itu model mempunyai properti seperti massa, volume, pusat gravitasi , luas permukaan dan lain-lain.

Perangkat lunak CAD yang lagi ngetrend saat ini:

    1. Pro/ENGINEER
    2. AutoCAD
    3. Solid Works
    4. Catia
    5. Unigraphics
    6. ProgeCAD perangkat lunak CAD gratis
    7. ZWCAD

sumber: https://id.wikipedia.org/

Sabtu, 26 Maret 2016

PENGERTIAN LAS LISTRIK

A. PENGERTIAN LAS LISTRIK

LAS LISTRIK
        Las busur listrik adalah salah satu cara menyambung logam dengan jalan menggunakan nyala busur listrik yang diarahkan ke permukaan logam yang akan disambung. Pada bagian yang terkena busur listrik tersebut akan mencair, demikian juga elektroda yang menghasilkan busur listrik akan mencair pada ujungnya dan merambat terus sampai habis.



PENGERTIAN LAS LISTRIK       

       Logam cair dari elektroda dan dari sebagian benda yang akan disambung tercampur dan mengisi celah dari kedua logam yang akan disambung, kemudian membeku dan tersambunglah kedua logam tersebut.
Mesin las busur listrik dapat mengalirkan arus listrik cukup besar tetapi dengan tegangan yang aman (kurang dari 45 volt). Busur listrik yang terjadi akan menimbulkan energi panas yang cukup tinggi sehingga akan mudah mencairkan logam yang terkena. Besarnya arus listrik dapat diatur sesuai dengan keperluan dengan memperhatikan ukuran dan type elektrodanya.
       Pada las busur, sambungan terjadi oleh panas yang ditimbulkan oleh busur listrik yang terjadi antara benda kerja dan elektroda. Elektroda atau logam pengisi dipanaskan sampai mencair dan diendapkan pada sambungan sehingga terjadi sambungan las. Mula-mula terjadi kontak antara elektroda dan benda kerja sehingga terjadi aliran arus, kemudian dengan memisahkan penghantar timbullah busur. Energi listrik diubah menjadi energi panas dalam busur dan suhu dapat mencapai 5500 °C.
       Ada tiga jenis elektroda logam, yaitu elektroda polos, elektroda fluks dan elektroda berlapis tebal. Elektroda polos terbatas penggunaannya, antara lain untuk besi tempa dan baja lunak. Biasanya digunakan polaritas langsung. Mutu pengelasan dapat ditingkatkan dengan memberikan lapisan fluks yang tipis pada kawat las. Fluks membantu melarutkan dan mencegah terbentuknya oksida-oksida yang tidak diinginkan. Tetapi kawat las berlapis merupakan jenis yang paling banyak digunakan dalam berbagai pengelasan komersil

A. Pembentukan busur listrik proses penyulutan
1. Pembentukan Busur Listrik

    Pada pembentukan busur listrik elektroda keluar dari kutub negatif (katoda) dan mengalir dengan kecepatan tinggi ke kutub positif (anoda). Dari kutub positif mengalir partikel positif (ion positif) ke kutub negatif. Melalui proses ini ruang udara diantara anoda dan katoda (benda kerja dan elektroda) dibuat untuk menghantar arus listrik (diionisasikan) dan dimungkinkan pembentukan busur listrik. Sebagai arah arus berlaku arah gerakan ion-ion positif. Jika elektroda misalnya dihubungkan dengan kutub negatif sumber arus searah, maka arah arusnya dari benda kerja ke elektroda. Setelah arus elektroda didekatkan pada lokasi jalur sambungan disentuhkan dan diangkat kembali pada jarak yang pendek (garis tengah elektroda).
 
     Dengan penyentuhan singkat elektroda logam pada bagian benda kerja yang akan dilas,berlangsung hubungan singkat didalam rangkaian arus pengelasan, suatu arus listrik yang kekuatannya tinggi mengalir, yang setelah pengangkatan elektroda itu dari benda kerja menembus celah udara, membentuk busur cahaya diantara elektroda dengan benda kerja, dan dengan demikian tetap mengalir.Suhu busur cahaya yang demikian tinggi akan segera melelehkan ujung elektroda dan lokasi pengelasan.
     Didalam rentetan yang cepat partikel elektroda menetes, mengisi penuh celah sambungan las dan membentuk kepompong las. Proses pengelasan itu sendiri terdiri atas hubungan singkat yang terjadi sangat cepat akibat pelelehan elektroda yang terus menerus menetes.

2. Proses penyulutan
Setelah arus dijalankan, elekteroda didekatkan pada lokasi jalur sambungan disentuhkan sebentar dan diangkat kembali pada jarak yang pendek (garis tengah elektroda).

3. Menyalakan busur listrik

Penyalaan busur listrik dapat di lakukan dengan menghubungkan singkat ujung elektroda dengan logam induk (yang akan dilas) dan segera memisahkan lagi pada jarak yang pendek.

 
4. Memadamkan busur listrik
Cara pemadaman busur listrik mempunyai pengaruh terhadap mutu penyambungan maniklas. Untuk mendapatkan sambungan maniklas yang baik sebelum elektroda dijauhkan dari logam induk sebaiknya panjang busur dikurangi lebih dahulu dan baru kemudian elektroda dijauhkan dengan arah agak miring.
Pemadaman busur sebaiknya tidak dilakukan ditengah-tengah kawah las tetapi agak berputar sedikit

B. Macam-macam gerakan elektroda

1. Gerakan arah turun sepanjang sumbu elektroda. Gerakan ini dilakukan untuk mengatur jarak busur listrik agar tetap.
2. Gerakan ayunan elektroda. Gerakan ini diperlukan untuk mengatur lebar jalur las yang dikehendaki.

Sabtu, 09 Agustus 2014

Problem-based learning



PBL

Problem-based learning (PBL) is a student-centered instructional strategy in which students collaboratively solve problems and reflect on their experiences. It was pioneered and used extensively at McMaster University, Hamilton, Ontario, Canada as well as the Monterrey Institute of Technology ITESM. The Materials department at Queen Mary, University of London was the first Materials department in the UK to introduce PBL.[1]
PBL is based on the educational theories of Vygotsky, Dewey, and others, and is related to social-cultural constructivist theories of learning and instructional design.

Characteristics of PBL are:
·         Learning is driven by challenging, open-ended, ill-defined and ill-structured, practical problems.
·         Students generally work in collaborative groups. Problem based learning environments may be designed for individual learning.
·         Teachers take on the role as "facilitators" of learning.
·         Instructional activities are based on learning strategies involving semantic reasoning, case based reasoning, analogical reasoning, causal reasoning, and inquiry reasoning, These activities include creating stories; reasoning about cases; concept mapping; causal mapping; cognitive hypertext crisscrossing; analogy making; and question generating;

In PBL, students are encouraged to take responsibility for their group and organize and direct the learning process with support from a tutor or instructor. Advocates of PBL claim it can be used to enhance content knowledge and foster the development of communication, problem-solving, and self-directed learning skill.
PBL positions students in simulated real world working and professional contexts which involve policy, process, and ethical problems that will need to be understood and resolved to some outcome. By working through a combination of learning strategies to discover the nature of a problem, understanding the constraints and options to its resolution, defining the input variables, and understanding the viewpoints involved, students learn to negotiate the complex sociological nature of the problem and how competing resolutions may inform decision-making.
Support systems, which include resources germane to the problem domain as well as instructional staff, are provided to scaffold students skills "just in time" and within their learning comfort zone (Vygotsky's Zone of Proximity)

 

Cognitive effects of problem-based learning

The acquisition and structuring of knowledge in PBL is thought to work through the following cognitive effects (Schmidt, 1993):
·         initial analysis of the problem and activation of prior knowledge through small-group discussion
·         elaboration on prior knowledge and active processing of new information
·         restructuring of knowledge, construction of a semantic network
·         social knowledge construction
·         learning in context
·         stimulation of curiosity related to presentation of a relevant problem


Project-based learning
Project-based learning, or PBL (often "PjBL" to avoid confusion with "Problem-based Learning"), is the use of classroom projects, intended to bring about deep learning, where students use technology and inquiry to engage with issues and questions that are relevant to their lives. These classroom projects are used to assess student's subject matter competence compared to traditional testing.

 

Purpose

Project-based learning (PBL): best defined as instruction relating questions and technology relative to the students everyday lives to classroom projects. Students form their own investigation of their own group which allows students to develop valuable research skills. The students engage in design, problem solving, decision making, and investigative activities. It allows students to work in groups or by themselves and allows them to come up with ideas and realistic solutions or presentations. Students take a problem and apply it to a real life situation with these projects.

 

Structure

Project-based learning(PjBL): is an approach for classroom activity that emphasizes learning activities that are long-term, interdisciplinary and student-centered. This approach is generally less structured than traditional, teacher-led classroom activities; in a project-based class, students often must organize their own work and manage their own time. Within the project based learning framework students collaborate, working together to make sense of what is going on. Project-based instruction differs from inquiry-based activity by its emphasis on collaborative learning. Additionally, project-based instruction differs from traditional inquiry by its emphasis on students' own artifact construction to represent what is being learned.

 

Elements

The core idea of project-based learning is that real-world problems capture students' interest and provoke serious thinking as the students acquire and apply new knowledge in a problem-solving context. The teacher plays the role of facilitator, working with students to frame worthwhile questions, structuring meaningful tasks, coaching both knowledge development and social skills, and carefully assessing what students have learned from the experience. Advocates assert that project-based learning helps prepare students for the thinking and collaboration skills required in the workplace.

 

Activities

When used with 21st century tools/skills [1], Project Based Learning (PBL) is more than just a web-quest or internet research task. Within this type of project, students are expected to use technology in meaningful ways to help them investigate, collaborate, analyze, synthesize and present their learning. Where technology is infused throughout the project, a more appropriate term for the pedagogy can be referred to as iPBL (copyright 2006, ITJAB), to reflect the emphasis of technological tools/skills AND academic content.

 

Roles

PBL relies on learning groups. Student groups determine their projects, in so doing, they engage student voice by encouraging students to take full responsibility for their learning. This is what makes PBL constructivist. Students work together to accomplish specific goals.

 

Outcomes

More important than learning science, students need to learn to work in a community, thereby taking on social responsibilities. The most significant contributions of PBL have been in schools languishing in poverty stricken areas; when students take responsibility, or ownership, for their learning, their self-esteem soars. It also helps to create better work habits and attitudes toward learning. In standardized tests, languishing schools have been able to raise their testing grades a full level by implementing PBL. Although students do work in groups, they also become more independent because they are receiving little instruction from the teacher. With Project-Based Learning students also learn skills that are essential in higher education. The students learn more than just finding answers, PBL allows them to expand their minds and think beyond what they normally would. Students have to find answers to questions and combine them using critically thinking skills to come up with answers.

Criticism
(This section needs citations for these statements and claims.)
Given that Project Based Learning has been almost exclusively implemented in poverty stricken communities the main criticism is that it constitutes experimenting on the poor like they are lab rats. In the many attempts to implement PBL in wealthy school districts have failed primarily because the wealthy understand that traditional teaching methods have developed over thousands of years and have the widespread support of Academia (i.e. university professors). In contrast PBL has developed exclusively from the field of education whose primary goal is to establish the relevance of their own field.


Sumber:

MENGAJAR DENGAN DIMENSI BELAJAR



(Pada Mata Pelajaran Fisika mengenai Hukum Newton)

belajar

Dimensi 1: Sikap dan Persepsi Positif
·         Memperkenalkan setiap siswa kepada sesama temannya agar mereka lebih akrab dan mengadakan kuis agar tercipta interaksi positif antara siswa dengan guru dan antara siswa dengan sesama siswa.
·         Menciptakan iklim belajar yang nyaman dengan menghias ruang kelas agar siswa merasa nyaman dan menganggab kelas sebagai tempat yang menyenangkan.
·         Memberitahu manfaat mempelajari hukum newton dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari agar para siswa tertarik untuk mempelajari hukum newton.
·         Membangun interaksi yang baik dan menerapkan cara pengajaran yang menyenangkan sehingga siswa dapat menerima pelajaran fisika terutama mengenai hukum newton dengan hati senang sehingga mereka dapat menyerap ilmu secara maksimal dan yakin bisa mengerjakan tugas dengan baik.
·         Mengadakan praktek/percobaan sederhana agar siswa lebih tertarik dan dapat mengaplikasikan langsung pengetahuan mereka tentang hukum newton yang telah mereka pelajari.

Dimensi 2: Pemerolehan dan Pengintegrasian Pengetahuan
·         Membimbing siswa untuk mempelajari hukum newton dan menemukan cara  pengaplikasiannya dalam kehidupan mereka sehari-hari.
·         Memberi stimulus dan masalah-masalah seputar kejadian yang berhubungan dengan hukum newton kepada siswa seperti buah apel yang dilempar keatas tetapi jatuh kembali ke tanah, sehingga siswa dapat terpacu/terespon untuk mencari dan memperoleh informasi lalu dapat mendiskusikannya dalam kelompok.
·         Setelah memberi stimulus, kita juga harus memonitoring mereka dalam mencari makna dan mengorganisasikan informasi agar mereka tidak lepas dan melenceng dari topik awal diskusi.
·         Setelah selesai kita bisa memberi contoh kepada siswa bagaimana menyimpan dan menggunakan penyelesaian masalah seputar fenomena hukum newton tersebut.
·         Dengan membiasakan menganalisis fenomena-fenomena hukum newton yang terjadi di sekitar mereka, diharapkan siswa lebih peka terhadap kejadian yang berhubungan dengan hukum newton dalam kehidupan sehari-hari dan dapat menyelesaikannya.

Dimensi 3: Perluasan dan Penghalusan Pengetahuan
·         Mengadakan diskusi  dan pengamatan kelompok secara kontinu tentang fenomena-fenomena hukum newton yang terjadi agar siswa terbiasa dan peka terhadap fenomena-fenomena tersebut.
·         Kemudian siswa dibimbing untuk membandingkan fenomena yang telah mereka amati dengan prinsip hukum newton agar mereka mengerti apa saja peristiwa yang berhubungan dengan hukum newton.
·         Membimbing siswa untuk mengunakan dan mempelajari secara mendalam hasil pembandingan dalam diskusi setiap kali selesai diskusi dan selalu membandingkannya dengan hasil-hasil diskusi sebelumnya untuk memperoleh sebuah kesimpulan.
·         Siswa kemudian mengklarifikasikan apakah hasil dari diskusi tersebut cocok dengan gejala hukum newton yang telah diamati.
·         Kemudian siswa mencari dan menganalisis kesalahan yang mungkin saja terjadi dalam hasil diskusi tersebut agar memperoleh hasil analisis perspektif yang relevan dengan gejala fisika yang mereka amati.

Dimensi 4: Penggunaan Pengetahuan secara Bermakna
·         Setelah mengadakan diskusi-diskusi, diharapkan siswa dapat memecahkan dan menemukan masalah-masalah yang berhubungan dengan hukum newton seperti “bagimana konstruksi dan bahan yang sesuai dalam pembuatan jembatan agar bisa menahan beban sampai 100 ton”.
·         Siswa mengklasifikasikan bahan-bahan apa saja yang mempunyai faktor keamanan yang tinggi seperti besi tuang yang faktor keamanan statisnya 6 dan baja yang faktor keamanan statisnya 5, sehingga siswa dapat memilih bahan yang paling cocok untuk dijadikan bahan pembuat jembatan.
·         Kemudian siswa dibimbing untuk memecahkan masalah bagaimana menggunakan dan menyusun bahan-bahan tersebut menjadi konstruksi jembatan yang kokoh dan mampu menahan beban sampai 100 ton melalui cara mengadakan simulasi sederhana dengan membuat prototype jembatan dengan menggunakan stik es krim dengan tujuan dapat menemukan dan menghitung bentuk jembatan yang paling kokoh.
·         Setelah selesai diharapkan siswa dapat mengadakan evaluasi untuk mengetahui kekurangan-kekurangan yang ada dan untuk lebih menyempurnakan ide mereka sehingga apa yang telah mereka bahas dalam diskusi dapat diaplikasikan ke dalam kehidupan nyata.
·         Jika siswa sudah selesai mengevaluasi kemudian siswa dibimbing agar mempresentasikan ide mereka ke dalam kelompok yang lebih besar lagi agar mereka dapat menemukan ide dan gagasan-gagasan baru yang bisa lebih menyempurnakan ide awal mereka.
·         Setelah menyelesaikan beberapa contoh peristiwa yang berhubungan dengan hukum newton tersebut, siswa diharapkan  dapat membuat keputusan tentang langkah apa yang akan diambil jika suatu saat menjumpai fenomena-fenomena hukum newton dalam kehidupan sehari-hari.
·         Akhirnya siswa dapat memecahkan masalah seputar hukum newton yang dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari dengan menggunakan keputusan tersebut.

Dimensi 5: Kebiasaan Berpikir Produktif
·         Siswa mengetahui apa yang sedang difikirkan, tindakan yang terencana, peka terhadap stimulus-respon, dan dapat evaluatif terhadap keefektifan tindakan dalam belajar fisika yang berhubungan dengan hukum newton.
·         Setelah melewati 4 fase tersebut diharapkan siswa dapat cermat, jelas, terbuka, bisa mengendalikan diri dan peka terhadap tingkat pengetahuan mengenai hukum newton yang telah siswa pelajari.
·         Dan pada akhirnya siswa akan mempunyai semangat tinggi, percaya diri, teguh, dan dapat menciptakan hal-hal baru berdasarkan hukum newton yang telah mereka kuasai.